RSS

Monthly Archives: February 2012

Wisuda, adalah awal. Bukan akhir!

Depok hari itu, seakan menjelma menjadi kota bahagia. Senyum bahagia tersebar merekah, ucapan selamat dan bingkisan bunga ikut mengiringi, wajah-wajah bahagia terekam baik oleh lensa-lensa kamera. Para orang tua ada yang menitikkan air mata haru dan bahagia di ujung matanya, menyaksikan sang anak kini telah meraih sebuah gelar baru di belakang nama mereka, dalam hatinya mungkin terbesit, selesai juga perjuangannya mencari nafkah untuk membiayai pendidikan si anak.

Ya, Para pejuang ilmu yang telah bergelut kurang lebih empat hingga enam tahun, kini mengenakan baju kebanggannya, toga. Sebagai symbol sebuah kelulusan dan keberhasilan. Meski aku tak bisa ikut serta d isana karena sebuah kegiatan yang mengharuskan aku untuk pergi ke luar negeri, namun aku bisa melihatnya dari foto-foto yang terpajang di album facebook teman-teman, betapa meriahnya hari itu. wajah-wajah yang cantik, bingkisan bunga yang indah, senyum orang tua yang mereka, hari wisuda memang menjadi hari kebahagiaan yang selalu dinanti oleh para mahasiswa.

Tak menyangka juga, ketika aku membuka website, ada sebuah pesan singkat yang menyadarkan dan membuat bibirku tersenyum cukup lama: Dear ukhti Oki…Setiap akhir adalah awal permulaan yang baru.Selamat datang di dunia pasca kampus.Semoga ilmunya berkah,semakin Allah tambahkan pula jalan2 keluasan ilmu. Happy Gradution my lovely sista .Kau tahu,Allah menciptakanmu begitu istimewa. Selamat menikmati apa yang disebut “Indah pada Waktunya”.Semoga berkah segala perjuangan yang telah terlewati dan bersiap untuk perjuangan selanjutnya.Barakillah,semoga menjadi sarjana yang penuh manfaat. Terus berkarya!Terus ukir prestasimu.Sukses dunia akhirat… 🙂

Eh? Happy graduation..? aku.. sudah menjadi sarjana sekarang? Oki Setiana Dewi,S.Hum ? hmm.. okay! Agak aneh memang, mendadak ada beberapa huruf yang ikut memanjangkan nama, tapi bagaimanapun itulah hasil dari perjuanganku 4, 5 tahun kemarin. Agak terlambat memang, karena aku sempat mengambil cuti untuk shooting Ketika Cinta Bertasbih di Mesir 2008 silam. Namun aku begitu bersyukur, bahwa aku bisa menyelesaikannya… di tengah perjalanan kuliahku yang terkadang terseok-seok. Seringkali di kala rasa kantuk yang begitu mendera, karena shooting yang baru usai pukul 5 subuh, kupaksakan diriku di pagi hari untuk berkata, “Ayo Oki! Berangkat kuliah!” dan seringkali aku mencubit lenganku sendiri atau meminta teman mencubitku agar aku tidak tertidur di dalam kelas. Atau ketika musim ujian sementara sampai dini hari aku masih harus terus shooting atau berada di luar kota, dna ketika airmata ini berderai-derai, namun kutepuk lenganku sendiri sambil mengucapkan, “Ayo Oki! Kamu bisa!”

Ya Allah… perjuangan itu… terlewati sudah… Alhamdulillah…

4, 5 tahun, yang sebenarnya bukan hanya memberikan aku sekedar tambahan huruf berupa titel, namun lebih dari itu, lima tahun perjuangan itu telah mengantarkan aku hingga bisa seperti sekarang ini. Bukan cuma titel atau lembaran nilai-nilai IP, namun juga sahabat-sahabat yang hebat, yang telah mengajarkan aku makna sesungguhnya dari ‘maju terus pantang mundur’ sahabat-sahabatku, mereka semua yang ada di kampus. Mulai dari dosen, teman sekelompok, teman organisasi, penjaga kantin, anak-anak penjual koran, pak satpam yang baik, bahkan sampai teman-teman di lokasi shooting, yang selalu menularkan semangat, yang menyadarkan aku bahwa ilmu itu bukan hanya ada di dalam kelas, namun dimanapun kita berada disitulah ilmu itu, hingga akhirnya aku memilih untuk banyak mengikuti kegiatan agar semakin bertambah juga ilmu itu, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku ini.

Namun seperti yang disampaikan sahabat dalam pesan singkatnya, bahwa setiap akhir adalah awal permulaan yang baru. Maka itulah hakikat wisuda yang sebenarnya. Di balik wajah kebahagiaan para mahasiswa bertoga, sebenarnya kita masih memiliki tugas yang lebih besar dari pada sekedar tugas yang ada dikampus. Yaitu bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat dengan bekal ilmu yang telah kita isi selama bertahun-tahun di kelas.

Fiufh.. jika membayangkan, tentu itu sungguh berat sekali. Terlebih melihat wajah para orang tua, yang penuh harapan terhadap anaknya yang telah menjadi sarjana, yang tak pernah letih melantunkan doa-doa untuk anaknya…

Ketika sudah mencapai puncak, capailah puncak yang lain. begitu kiranya nasihat orang bijak yang pas untukku saat ini. Meski wisuda itu adalah puncak dari perjuangan kita selama di kampus, namun ia bukanlah akhir. Lihatlah jauh kedepan, masih banyak puncak yang harus kita daki lagi. Janganlah takut untuk memulai dari Nol, melangkah dari awal untuk mendaki puncak yang lebih tinggi lagi.

Karena wisuda sesungguhnya bukan disini. Karena wisuda sesungguhnya bukan ketika kita mengenakan toga kemudian bersalaman dengan pak rektor menerima ijazah. Wisuda sesungguhnya itu adalah nanti, di akhirat sana. Ketika kita menerima buku amal dengan tangan kanan, ketika berhasil melewati panasnya padang mahsyar, ketika Allah telah membukakan pintu syurganya, dan kita dipersilahkan masuk selamanya.

Subhanallah… itulah wisuda yang sesungguhnya. Puncak dari semua puncak.

Insya Allah, kita termasuk didalamnya… amin…

*Selamat kepada teman-teman perjuangan di kampus UI, terutama teman-teman FIB sastra Belanda angkatan 2007 dan 2008. Juga selamat untuk sahabat terbaikku, yang menjadi adik-adikku iparku dalam film(hehe), Meyda Sefira dan Rahmi Nurulina yang telah meraih gelar sarjananya. Ayo kita lanjutkan untuk kuliah lagi…!!!!

OSD, February 2012


Advertisements
 
15 Comments

Posted by on February 29, 2012 in Inspiration, Motivation

 

Terima Kasih Telah Mengajarkan Semangat

Depok mendung. Angin badai. Dalam hitungan menit, hujan angin pun menyerbu. Beberapa rumah memilih menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Para pedagang di pinggir jalan merapikan dagangannya. Pengendara motor memilih minggir takut terkena tumbangan pohon. Kecuali satu yang aku lihat tidak berubah dari biasanya, yaitu adik-adik itu. adik-adik yang berkokoh rapih dan berpeci, bergamis dan berjilbab, berlari semangat menuju rumah Nenek Timah dengan menggunakan payung melawan semangatnya hujan. Di rumah Nenek Timah inilah,  sudah bertahun-tahun lamanya setiap ba’da Ashar selalu banyak anak-anak yang berdatangan untuk mengaji. Sudah beberapa bulan terakhir ini, sejak break shooting, aku membantu Nenek Timah untuk mengajar adik-adik ini mengaji.

“ Mbak Oki.. hujannya semangat bangeet..” teriak mereka di pintu pagar.

Aku langsung membantu mereka masuk ke rumah Nenek Timah. Baju mereka sebagian basah terkena hujan angin yang datang mendadak. Suara adzan ashar tadi pun kalah oleh derasnya hujan.

Ya, setiap sore, adik-adik itu mengaji. Tak pernah ada yang bolos, setiap hari semangatnya selalu baru. Satu hal yang selalu aku perhatikan, adalah kerapihan berbusana mereka. Meski memang tidak selalu baju baru, namun baju kokoh bagi anak laki-laki, dan jilbab bagi anak perempuan, tak pernah ketinggalan. Jika mereka sholat berjama’ah dengan jemaah di masjid (rumah Nenek Timah bersebelahan dengan masjid, sehingga adik-adik ini harus sholat di masjid terlebih dahulu, baru mengaji), terkadang kontras sekali. Orang-orang dewasa di sebelahnya malah mengenakan baju yang sekenanya untuk menghadap Allah. Sementara adik-adik nampak begitu rapi.

Setelah sholat berjama’ah rutinitas mengaji pun dimulai. Ada yang masih iqra, ada yang sudah membaca al-Qur’an. Sebagai pengajar baru, tentu aku mempelajari pola pengajaran di TPA(Taman Pendidikan Al Qur’an) ini.

Dengan jumlah murid yang sedemikian banyak, Nenek Timah tidak bisa optimal mengajar anak-anak. Walhasil hanya kuantitas yang dicapai, anak-anak sudah jauh mengajinya namun masih terbata-bata, hal tersebutlah yang membuat aku prihatin. Maka atas izin Nenek Timah, kami berbagi tugas, aku mengajar anak-anak yang al-Qur’an dan membacakan siroh (kisah hidup) Nabawi & para sahabat sedangkan Nenek Timah mengajar anak-anak Iqra’dan surat-surat serta hadits-hadits yang harus mereka hafalkan.

Mengajar anak-anak Al-Qur’an yang sudah beranjak besar pun tidak mudah, karena ternyata mereka pun belum lancar memahami dasarnya, banyak bagian di iqra yang harus dipelajari lagi. Hal tersebut membuat aku cukup letih untuk menuntunnya, yang kemudian aku mengatakan kepada mereka,

 “Kalau tidak lancar, besok-besok lima baris saja ya bacanya..biar sedikit, yang penting lancar. Setuju?”mereka mengangguk, meski sambil memanyunkan bibir.

Satu ‘ain ya Mbak Oki..”

Kemarin kan Mbak Oki sudah bilang, kalau tidak lancar lima baris dulu

” Satu ‘ain Mbak.. aku sudah belajar kok di rumah..”

Iya Mba…satu ‘ain.. gapapa.. panjang juga..lama juga ga papa kok..” ujar yang lain mengikuti, aku pun tak bisa mengelak dan setuju.

Sekali lagi, mengajar ngaji yang belum lancar, panjang pula, bukanlah hal yang mudah. Aku  berkali-kali menarik nafas, rasanya pingin menyudahi dan dlanjutkan besok lagi. Namun adik-adik di hadapanku ini, terasa tak pernah lelah, terbata, dengan suara lantang, percaya diri, padahal bacanya masih ‘belepotan’.

“Mmm.. kurang dengung”. “bacanya panjang dong”. “ini kan ada tasydid” “masa lupa ini huruf apa” dst. Semua kritikan aku terus sampaikan selama mereka mengaji, menurutku ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Namun adik-adik itu tetap semangat, tidak kesal atau marah, apalagi kapok. Hal inilah yang akhirnya ‘menyentil’ kesabaranku. Mereka saja, yang terbata bahkan ‘ngos-ngos’an, sangat sabar bahkan terus semangat mempelajari ayat Allah, mengapa aku yang sudah mahir malah tidak sabaran? Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. aku terus beristighfar dalam hati, sambil memandang wajah semangat di hadapanku yang sedang khusyu’ membaca al-Qur’an.

Ipeh, siswi kelas 3, adalah murid yang terakhir mengaji sore itu, ia juga murid yang paling terbata bacaanya. Selesai membaca sampai satu ‘ain ia nampak ‘ngos-ngosan’, rambut-rambut poni keluar dari jilbabnya, namun ia tersenyum bangga. Dengan senangnya ia berkata ,

“Mba,, besok satu ‘ain lagi ya..” katanya sambil membetulkan posisi jilbab.

 “aku janji deh nanti belajar dulu di rumah..” mukanya memohon.

hmm.. oke! Bacaannya harus dilancarin lagi ya?” mendengar jawabanku ipeh pun bersorak. Adik-adik yang lain juga ikut bersorak.

 “Pokoknya satu ‘ain ya ka…” teriak mereka sebelum pulang.

Duh Rabbi, adik-adik ini sudah memiliki target mengaji setiap hari. Meski hanya satu ‘ain, meski bacaanya sangat terbata. Terima kasih atas semangat yang kalian tularkan,, semoga Allah menyinari setiap langkah kita dengan cahaya al-Qur’an.

Depok, sore itu hujannya semangat. Namun tetap kalah dengan semangat murid-muridku. 🙂

By: OSD-2011-

 
13 Comments

Posted by on February 2, 2012 in Inspiration, Motivation

 

Engkau Habiskan Dengan Apa Masa Mudamu?

Langit, hujan, bintang sepertiga malam, senja yang merah memukau, pagi yang dingin dan sejuk, angin semilir, rasanya terlalu banyak hal indah yang kutatap setiap harinya sebagai tanda kekuasaan Allah. Kalau sudah begitu, rasanya cinta dan rindu padaNya begitu menggebu-gebu. Banyak hal yang ingin kulakukan untuk mengobatinya. Andai saja aku mampu menggunakan setiap detik nafasku untuk terus mengagumi dan memujaNya. Aku ingin menjadi lebih baik, dan selalu ingin menjadi lebih baik, walau sebagai manusia aku pasti lebih banyak lupa daripada ingatnya, lebih banyak bikin dosa daripada menabung pahala. Aku selalu cemburu dan iri bila bertemu dengan mereka yang begitu taat dan cinta pada Allah.  Ya, karena aku selalu berfikir orang-orang seperti mereka pasti sangat disayang Allah, pasti Allah lebih sayang mereka daripada aku, mereka begitu mendekat pada Allah, dan Allah pasti akan seribu kali lebih mendekat lagi pada mereka. Sedangkan aku? Berbuat maksiat saja masih sering kulakukan.

Hari ini aku menyengajakan diri untuk bersilaturahim ke sebuah tempat yang sesungguhnya sejak lama ingin kudatangi. Tempat itu bernama  rumah Qur’an. Rumah itu terletak di antara rumah warga lainnya. Sekilas tak ada yang special dengan rumah itu. Rumah itu begitu sederhana. Namun yang membedakan dan membuatnya berbeda dengan rumah-rumah lainnya tentu saja ayat-ayat suci Al Qur’an yang terlantun tiada henti dari bibir para gadis yang menempati rumah ini.

Begitu aku tiba, aku sudah bisa menyaksikan para gadis yang memegang mushafnya dan menghafalkannya. Hatiku berdesir, rasa iri muncul begitu saja. Ternyata itu belum apa-apa, ketika aku memasuki rumah Qur’an,  kesibukkan menghafal Qur’an terlihat semakin jelas. Ada sekitar 25 gadis yang berkomat kamit sembari memegang mushaf. Allah…

Di rumah itu terdapat empat kamar dan 1 ruang tamu yang dialasi dengan karpet,  yang kira-kira berukuran 3x5m. Aku melihat sekilas di pintu setiap kamar tertulis nama para penghuni kamar. Aku baru tahu, setiap kamar yang begitu kecil itu dihuni sekitar 5-7 orang.

Tiba-tiba saja aku menjadi tak enak sendiri. Aku khawatir kehadiranku akan menganggu dan membuang waktu mereka dalam menghafal. Karena aku tahu sehari minimal mereka harus menghafal dan menyetorkan satu halaman Al-Qur’an.  Sedangkan mereka adalah mahasiswi yang tentu  memiliki waktu yang tidak terlalu banyak untuk itu. Mereka masih harus menyelesaikan tugas-tugas kampus dan sebagainya. Kedatanganku tentulah akan menyita waktu mereka. Berulang kali aku meminta maaf dan berulang kali pula para bidadari bumi itu mengatakan aku tak perlu meminta maaf dengan terus memberikan senyum teduh mereka. Sekitar setengah jam aku berbincang dengan mereka aku memutuskan untuk pamit pulang.

Dalam perjalan pulang bayang mereka hadir satu persatu di benakku. Lantunan ayat suci Allah tiba-tiba saja teringang dan berputar di fikiranku. Aku hanyut dalam pertanyaan batinku sendiri. Bila suatu saat nanti Allah bertanya pada mereka, digunakan untuk apa masa muda mereka, mereka akan bisa menjawabnya tanpa ragu. Dan bagaimana denganku? Aku pasti akan sangat malu pada Allah jika harus mengatakan bahwa aku tak melakukan apa-apa ketika aku masih muda. Bahwa aku tak melakukan hal apapun yang bisa mendekatkan diriku padaNya.

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Allah memang tak menanyakan masa tua, tetapi masa muda. Disaat semangat masih membara, potensi masih bisa untuk terus diasah, dan peluang meraih cita masih luas membentang.  Dalam hidup setiap orang yang mengais rezeki berupa uang akan menabung demi alasan kebahagiaan di masa depan. Bisa dicek berapa banyak orang yang punya rekening di bank. Ada yang banyak, ada yang sedikit, namun rata-rata hampir setiap warga kita khususnya para penghuni kota tentunya memiliki sejumlah rekening di bank untuk menabung. Lalu bagaimana dengan arti hidup yang sesungguhnya. Yang sesungguhnya hanyalah tempat singgah untuk mencari bekal perjalanan abadi kita di akhirat nanti. Yang sesungguhnya adalah waktu menabung untuk dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Maka sesungguhnya akhirat adalah masa depan kita yang sesungguhnya. Yang telah tertulis dan termaktub sebagai janji Allah bagi ummat manusia.

Masih terbayang dalam benakku bagaimana para gadis di rumah al-quran itu begitu antusias menghafal kata demi kata dalam Al-Quran dengan kesungguhan dan ketekunan. Seketika rasa iri kembali hadir dalam benakku. Betapa beruntungnya mereka, orang-orang yang dalam seusia itu telah menyadari bahwa kelak akan ada pertanyaan yang Allah berikan mengenai masa muda. Masa muda yang tidak diisi dengan bergelimang dalam kehidupan dunia yang fana dan membuat Allah murka tetapi masa muda yang diisi dengan menabung amal untuk membuat mendapatkan naungan Allah di akhirat kelak. Betapa indahnya masa muda mereka yang dengan bibir basah menyebut asma Allah setiap saat, bahkan menghafal ayat-ayat cinta Allah dengan sebegitu tekun dan sabar.

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya yaitu: Imam (pemimpin) yang adil; pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah; orang yang hatinya selalu terikat pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula; seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’; orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya; dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Allah sepertinya tak henti membuatku untuk terus merenung. Ketika beberapa hari setelah kunjunganku ke rumah Qur’an, aku diundang suatu daerah untuk membicarakan masalah kenakalan remaja. Aku mendapat kenyataan bahwa lebih dari 50 persen remaja di sana sudah tidak lagi perawan. Astagfirullah, sebegitu buruknyakah wajah generasi penerus masa depan? Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi  pemuda kebanggaan ummat jika menjaga diri sendiri saja tidak mampu mereka lakukan. Padahal musuh mereka hanya satu, hawa nafsu.

Seorang pembicara menyampaikan materinya dengan menahan airmata sambil terus menyampaikan data persentase remaja yang tidak lagi perawan dan para remaja yang melakukan aborsi. Tiba-tiba saja aku teringat akan adik-adik yang kutemui di sebuah yayasan penampung anak-anak yatim dan berkebutuhan khusus beberapa waktu lalu. Anak –anak yang dibuang kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab, yang sengaja disingkirkan karena mereka cacat, mungkinkah sebagian dari mereka adalah bayi-bayi hasil hubungan para remaja yang sanggup berbuat namun tak sanggup bertanggungjawab? Entahlah…hanya Allah yang tahu semua itu.

Rahim yang dianugerahi Allah pada wanita adalah tempat suci yang melahirkan makhluk-makhluk Allah yang suci. Aborsi, zina, adalah hal yang menodai kesuciannya, kesucian rahim, dan kesucian fitrah perempuan itu sendiri. Sebuah hubungan yang haram terjadi telah menodai apa yang seharusnya begitu di agungkan. Rahim terlalu agung untuk diperlakukan seperti itu, dizinahi bahkan sampai dengan membunuh janin mungil tak berdosa yang tengah tumbuh.

Mungkin itulah sebab Allah memberikan balasan yang begitu indah bagi pemuda yang menghabiskan masa muda dalam rangka beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena masa muda adalah masa pada saat saat tarikan nafsu sedang kuat-kuatnya menjerat anak manusia. Apa yang dilakukan seseorang di masa mudanya akan menentukan masa depannya.  Pemuda yang terlena dengan masa mudanya  maka akan habis di masa tuanya. Pada akhirnya nanti rasa menyesallah yang datang mendera.

Sebagian orang mungkin  berpendapat  bahwa masa muda adalah masa bersantai dan berfoya-foya, menikmati semua kenikmatan dunia, lalu masa tua adalah masa bertaubat, berhenti dari semua hal yang buruk lalu berjalan tertatih menuju perbaikan? Sungguh begitu salah pemikiran seperti itu, sebab umur manusia tak ada yang tahu kapan akan berhenti, ia kalau kita sempat bertaubat, kalau tidak? Bukankah lebih tenang hidup kita jika telah menabung kebaikan sejak dini, hingga kapanpun Allah memangggil kita, kita siap dengan bekal yang telah kita persiapkan jauh-jauh hari.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”Dalam hal ini orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya. Subhanallah, Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah pada hambaNya. Ia begitu mengerti apa yang terdetik di dalam hati, lalu jika demikian masihkah kita enggan melakukan kebaikan dari sekarang? Masihkah kita menunda-nunda amal kebajikan.

Ketika muda, kita sering mengabaikan dan tidak menyadari bagaimana berharganya hidup yang Allah berikan pada kita, bukankah hidup sebuah anugrah besar yang sangat berharga? Sepertin namanya, anugrah, berarti ia adalah suatu hal yang luar biasa istimewa yang merupakan hadiah kasih sayang Allah bagi manusia. Allah menciptakan kita berawal dari segumpal tanah yang menjadi segumpal darah.  Lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, yang dalam beberapa bulan lahir dari perut sang ibu dalam keadaan menggigil kedinginan, begitu kecil dan rapuh. Setelah itu kita tumbuh menjadi seorang anak balita yang sehat dan dalam beberapa tahun tumbuh menjadi seorang remaja yang mulai mencari jati diri. Beranjak dewasa, kita semakin kuat dan matang. Fase inilah yang merupakan fase puncak dimana kekuatan kita penuh untuk bisa digunakan bekerja keras, akal kita sehat untuk berfikir hal-hal yang begitu rumit, raga kita kokoh dan sehat. Namun beberapa puluh tahun kemudian, semakin keriputlah kulit kita disertai dengan rambut memutih dan tulang yang perlahan keropos. Saat inilah kita kembali dalam keadaan fisik ketika kita pertama kali dilahirkan, lemah, rapuh dan tak berdaya.

Hitungan puluhan tahun adalah waktu yang terlalu singkat jika tidak kita manfaatkan dari sekarang untuk melakukan kebaikan. Jika di masa muda kita terbiasa dengan hal-hal yang melenakan, bukannya tidak mungkin kita takkan pernah memulai untuk berbuat kebaikan dan akan selalu menunda menabung pahala sebanyak-banyaknya. Bukankah lebih indah jika kala muda kita berjuang keras mencari nafkah lalu menikmatinya di masa tua, semua hasil kerja keras kita. Demikian halnya dengan beribadah, alangkah indahnya menjadi pemuda soleh yang taat dan patuh pada Allah, hingga saat tua nanti, Allah menghadiahkan kita pahala seperti apa yang kita kerjakan di masa muda.

 

Wahai Allah ….

jadikanlah kami pemuda-pemudi yang taat dan patuh padaMu, yang dihatinya tertanam rasa takut dan cinta kepadaMu, yang terjaga sikap dan tingkah lakunya, yang sanggup menopang amanah dan menjaga fitrah…

                                                                                    *

 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

 

By: -OSD- 2011.  Sejak tanggal 12 Januari 2012, aku resmi tinggal di rumh Qur’an dan bergabung bersama mereka. Rasa iri yang begitu menggebu dan rasa takut semangat menghafalkan Qur’an akan memudar,  akupun ‘memaksa’ diriku untuk menyegerakan bergabung di tempat ini. Doakan aku, sahabat semua… aku ingin seperti mereka… Ahlullah..wa khoshotuhu…

 
12 Comments

Posted by on February 1, 2012 in Inspiration