RSS

Penyakit Kelainan Seksual

21 Jan

Kiki. Sebut saja begitu. Dia adalah teman di kampus yang kisahnya ingin kubagi pada semua. Kiki menarik perhatianku karena ia seorang lelaki fisiknya tapi wanita perilaku dan hatinya. Aku pikir tadinya Kiki hanya agak sedikit ’kemayu’ saja. Namun lama kelamaan aku semakin menyadari bahwa Kiki tidak hanya kemayu, tapi keseluruhan yang ada dalam dirinya membuat semua teman-temanku melihatnya sebagai seorang wanita. Tingkah lakunya, tutur katanya yang lemah lembut, sifat manjanya, perasaannya yang begitu sensitif,  semuanya! Keseluruhan ia seorang perempuan, kecuali fisiknya. Andai aku memejamkan mata, tentu aku takkan ragu mengatakan bahwa ia seorang wanita.

Seringkali Kiki diledek oleh teman-temannya. Bahkan digoda, dengan pertanyaan ”laki-laki seperti apa yang mau kamu jadikan pacar?” atau ”Kamu nanti nikahnya harus di luar negeri lho, Ki… di Indonesia kan ga bisa menikah sesama jenis” lalu terdengar cekikikan yang membuat Kiki hanya bisa terdiam. Merajuk. ”Udah doong…” ujarnya singkat sambil sesekali merapikan rambutnya dengan jari-jarinya yang lentik.

Kiki adalah contoh dari sekian banyak orang di muka bumi ini yang menderita suatu penyakit kelainan seksual. Penyakit ini menyerang batin atau kejiwaan seseorang.

Penyebabnya memang bisa macam-macam, ada yang karena pergaulan, karena ingin mendapatkan uang, pengalaman buruk ketika masa kecil(seperti pelecehan seksual atau hubungan ibu dan ayah yang tidak harmonis)atau memang sejak kecil sudah menunjukkan kelainan itu. Seperti Kiki yang sejak kecil merasa lebih nyaman bermain dengan teman-teman perempuan.

Beberapa diantara yang menderita penyakit ini mengatakan,  ” Aku seorang wanita, tapi terperangkap di tubuh pria”. Atau kalimat, ”Takkan ada yang mau dilahirkan dalam keadaan seperti ini.Aku tak pernah meminta pada-Nya untuk menjadi seperti ini”

Yang menyedihkan adalah, tak jarang orang-orang yang menderita penyakit ini mendapatkan kemurkaan dari anggota keluarga mereka sendiri dan cemooh dari masyarakat. Penyakit ini membuat banyak penderitanya merasa begitu rapuh karena perlakuan lingkungan sekitar yang bukannya membantu menyembuhkan justru menyudutkan mereka. Bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tak kuat lagi menanggung malu.

Namun beruntunglah bagi mereka yang taat beribadah pada Rabb-nya. Senantiasa bermunajat pada Rabb-nya untuk disembuhkan dari penyakit itu. Tak ada yang salah ketika mereka menderita penyakit itu, karena itulah ujian hidup yang Allah berikan untuk mereka. Bukankah setiap orang memiliki ujianya masing-masing dalam hidup ini?Yang salah adalah, apabila penyakit itu membuat mereka membuat hal-hal yang Allah murkai, berzina, misalnya.

Hal ini sudah pernah terjadi jauh sebelum masa Rasulullah SAW. Allah mengutus Nabi Luth untuk menyelamatkan kaum Sodom. Kaum pecinta sesama jenis yang tidak menundukkan hawa nafsunya. Kaum Sodom mengabaikan nasihat Nabi Luth untuk menghentikan perbuatan – hubungan kelamin sesama jenis- yang membuat Allah murka itu. Pada akhirnya, Allah pun menjatuhkan adzab pada kaum Sodom dengan membalikkan negeri itu.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (Qs Hud 82).

Kiki memang penderita penyakit kelainan seksual ini. Tapi aku tahu, Kiki memiliki Allah di hatinya. Kiki cinta dan takut pada Rabb-nya. Kutahu Kiki takkan sampai terjebak pada perbuatan itu. Kiki hanya sakit, oleh karenanya Kiki perlu dibantu agar bisa sembuh. Walau kutahu itu takkan seperti membalik telapak tangan. Kiki perlu dirangkul, bukan dijauhi apalagi diolok-olok.

Aku tahu Kiki berusaha keras untuk terlihat seperti laki-laki. Kiki ingin menjadi seorang laki-laki. Dan dia memang laki-laki. Kiki pernah mengatakan salah satu cita-citanya kelak setelah menikah adalah memiliki anak-anak yang banyak. Karena Kiki senang dengan anak-anak. Walau sampai detik ini, hatinya tak pernah merasa ada kecendrungan pada seorang wanita, tapi Kiki tahu bahwa suatu saat nanti ia akan sembuh. Ia akan terus berusaha untuk bisa sembuh. Kiki ingin hidup normal, sebagai seorang laki-laki.

***

Hal ini juga mengingatkan aku, dengan percakapan seorang laki-laki yang usianya nyaris seusia dengan ayahku. kita sebut saja ia si Bapak. Karena aku memposisikan diriku sebagai anak. Meski ia memang bukan seorang bapak, karena belum punya anak, bahkan belum juga menikah.

Dari tuturnya, secara tak langsung ia mengakui akan ketidakwajaran pada dirinya, aku tidak ingin menyebutnya secara fulgar, tapi alasan dia tidak menikah sampai hari ini pun karena ketidakwajaran tersebut. Ya, karena ia tidak tertarik dengan wanita.

Tapi manusia tetaplah manusia. Kenapa pada akhirnya Allah menciptakan Hawa untuk Adam pun karena Allah tau, Adam akan merasakan suasana sepi di dunia, dan ia butuh seorang teman hidup di sisinya. Mungkin itu juga kenapa Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, Allah menuliskan siapa jodoh kita, Allah mendeskripsikan indahya surga dengan kehadiran bidadara dan bidadari, bahkan Allah merancang semua organ seksual dengan sempurna dan menuliskan caranya yang halal dengan indah dalam Alqur’an.

Suatu hari si Bapak sakit. Badannya demam dan muntah-muntah. Berhari-hari ia hanya terbaring di kamarnya yang megah. Rumah mewahnya itu nampak sepi, tak berpenghuni, kecuali hanya dia dan pembantu yang telah lama bekerja disana.

Idealnya, seorang bapak seusianya ketika sakit diurus oleh istri dan anak-anaknya. Tapi ia hidup sendiri di rumah tersebut, tak memiliki siapapun. Ia pun akhirnya merenung, seandainya ia tiba-tiba meninggal dunia dalam karena sakit seperti itu, adakah yang akan mencari dirinya?

Kemudia ia mematikan ponselnya selama beberapa hari. Ia memutuskan untuk diam di kamar dan tidak memulai komunikasi dengan siapapun. Bukan karena ia ingin istirahat total, ia hanya ingin tau adakah seseorang yang akan yang mencari dirinya? Jika ia meninggal di kamar itu, adakah yang merasa kehilangan dirinya?

Hari berjalan, kondisi si Bapak membaik. Memasuki hari kelima ia mengaktifkan kembali ponselnya. Berharap ribuan sms datang menyerbut menanyai kabarnya. Namun harapan tinggal harapan, dari ponsel tersebut hanya terdengar satu kali nada sms, itupun dari sang kakak.

Tiba-tiba hatinya bersedih, ”Ya Allah, berarti jika kemarin aku meninggal dunia, aku akan menjadi mayat busuk di kamar ini. Tanpa seorang pun yang merasa kehilangan”.

Tidak menikah, tentu bukan keinginannya. Rasa iri ingin seperti yang lain tetap menyusup dalam dirinya. Ingin  punya keluarga, ingin memiliki anak. Namun apa daya, seandainya ia menikah pun ia takut dzhalim karena tak mencintai istrinya. Tapi menikah dengan sesama jenis adalah hal yang dimurkai agama.

Beruntungnya, Allah masih sangat menyayangi si Bapak, kesepiannya itu tak membuat si Bapak mengurung hatinya. Justru sebaliknya, aku mengenal si Bapak sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan sosial. Harta yang melimpah tak ia nikmati sendiri, si Bapak yang sendiri itu tak lagi terlihat sepi.

”Allah memberikan aku banyak kelebihan, dengan berbagi aku merasakan kebahagiaan hidup sendiri. Meski sebenarnya, aku sedang berada dalam kekurangan, yang telah dimiliki oleh mereka-mereka itu” kata si Bapak, sambil tersenyum melihat sebuah keluarga yang sederhana dihadapannya.

***

Lain lagi dengan cerita si ’mbak’ perias make up artis. aku gatau harus memanggil ia mbak atau mas. Tapi ia laki-laki, hanya berdandan layaknya wanita. Dan ia minta dipanggil mbak kali pertama kami berkenalan. Dalam suatu kesempatan menunggu giliran syuting, gak sengaja aku berbincang dengannya. Dari obrolan tersebut mengalirlah cerita tentang masa lalu si perias yang membuat ia seperti sekarang.

Sama seperti kita, si perias dulu juga seorang manusia yang berjuang bangkit ingin mengubah garis hidup. Besar di keluarga yang seadanya, tinggal dan bermain pun dengan teman dan lingkungan yang seadanya. Hingga musibah terjadi, ia disodomi oleh seorang dengan paksa. Saat itu ia remaja, ia mengerti namun tak punya kuasa. Kejadian tersebut pun membuat goncangan pada psikologisnya.

Merasa malu dan kotor, ia akhirnya mencoba gantung diri dengan menggunakan kain horden di kamarnya. Lagi-lagi, Allah maha baik, seakan masih memberikan kesempatan hidup sekali lagi, aksi bunuh diri tersebut ternyata gagal. Entah bagaimana nyawanya bisa diselamatkan. Saat itu ia berusaha bangkit kembali, bukan hanya sekedar mengumpulkan semengat hidup, tapi juga semangat untuk berubah. Menebus semua dosa dan memperbaiki masa lalunya yang suram.

Hukum alam pun terjadi. Siapa yang menanam pasti ia akan menuai. Pekerjaan demi pekerjaan ia jalani dan semakin baik. Sampai akhirnya ia mendapatkan pekerjaan mapan sebagai perias make up artis, sungguh sebuah proses yang panjang. Roda kehidupannya pun berputar keatas. Semua perekonomian ia dan keluarga membaik. Kehidupannya berubah menjadi lebih teratur dan optimis. Hanya saja, ada sebuah perubahan yang sebenarnya tak ia harapkan. Dengan wajah datar, entah senang atau sedih, ia mengakui kondisi dirinya saat ini :

sejak saat itu aku tak lagi tertarik dengan lawan jenis, aku udah berusaha tapi tetap sulit..” ujarnya dengan senyum kecut, dan mata yang berkaca-kaca.

Dan pernyataan terakhirnya itu membuat bibirku tak bisa berucap.

***

Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Dan bagiku semua ini adalah ujian.

Kiki, si Bapak yang dermawan itu, dan si perias artis, mereka harus berjuang untuk menghadapi sakit dan ujiannyanya itu. Sama seperti kita juga yang normal, ujian datang dalam berbagai bentuk, berbagai wujud.

Smoga kita tetap bisa menjaga fitrah, kemaluan, dan bersabar menjalani ujian ini….

PS: Cerita ini tadinya ingin kumasukkan dalam buku ke-2ku, Sejuta Pelangi. Namun ketika proses penseleksian tulisan, tulisan ini termasuk salah satu yang gugur^^ jadi aku posting saja di sini. Semoga bermanfaat^^ – 2011-

 
1 Comment

Posted by on January 21, 2012 in Inspiration

 

One response to “Penyakit Kelainan Seksual

  1. sabrina112

    February 18, 2012 at 3:57 pm

    Aamiin… Subhanallah, artikrl yg sangat bermanfaat…….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: